• Post Title

    Category

    Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s,when an unknown printer...

    Buton

  • Titik hujan menghiasi pagiku hari ini, ditambah dengan awan gelap dan hembusan angin lembut menerpa permukaan kulitku. Lengkap..
    Sungguh pagi yang sangat indah. Bagaimana tidak, aku selalu berharap hal ini terjadi disetiap pagi, demi menghindari kegiatan rutin sekolahku dipagi hari. Dimana, kita harus berdiri lama ditengah lapangan basket dibawah terik matahari (hhuft, menyiksaa)
    Dengan gerimis seperti ini juga membuat pintu gerbang sekolahku lama tertutup (pintu gerbang yang merupakan salah satu masalah terbesarku.. hehhe). Penjaga sekolah yang sangat disiplin itu akan menjelma menjadi sosok malaikat yang sangat peduli terhadap siswa-siswanya dan menunda untuk menutup gerbang.

    Dengan santainya aku memasuki gerbang sekolahku, aku melihat tenda-tenda menghiasi lapangan hijau itu.
    Yaa, persiapan sudah matang, maulid Nabi besar Muhammad saw. tahun ini akan segera dimulai.






    Aku duduk ditengah-tengah teman baikku, terlihat tawa ringan menghiasi wajah mereka yang begitu familiar bagiku. Hmmm,, I like things like this..

    Namun, seketika perasaan itu berubah. Dadaku kian sesak, kerongkonganku panas, dan mataku pun mulai berair. Aku merasakan darah panas mengalir naik memenuhi wajahku. Rasa perih itu kembali menyayat-nyayat hatiku, ketika mendengar ceramah yang dibawakan oleh Udstaz Amrullah Amrih di atas sana. Dia mengingatkan ku pada sosok yang sangat kurindukan. Jantungku berdetak kencang. Kudengar semua tutur katanya, Dia menceritakan sebuah kisah yang hampir sama dengan apa yang pernah ku rasakan.

    Aku tenggelam dalam lamunanku, ingatanku akan sosok yang sangat kurindukan itu semakin jelas.
    Saat itu ketika tawa menyelingi candaan kami didalam sebuah kamar pondok pesantren moderen IMMIM Putri Pangkep, Sulawesi Selatan Indonesia. Saat dimana usiaku baru memasuki 14 tahun lewat 3 hari. Ibuku menelpon dan menyuruhku segera pulang ke Pinrang, kota asalku. Karena penyakit ayahku yang semakin parah. Jantungku berdegup kencang. Tak lama setelah itu adik dari ayahku datang menjemputku.


    Peraturan pesantren yang begtu disiplin, security tidak akan mengizinkan para santri keluar tanpa mendapat tanda tangan dari guru pembina. Tapi pada saat itu guru pembinaku sedang keluar. Tak ada pembina yang bisa ku mintai tanda tangan pada saat itu, namun pamanku bersikeras memulangkanku. Ia marah kepada Security Pesantren, membentaknya, dan mengatakan kalau ayahku sudah pergi.

    Lututku tiba-tiba terasa ngilu, tak mampu lagi menahan beban, aku melihat tatapan iba teman-temanku. Tapi aku tak percaya, aku tak percaya pada pamanku. Aku merasa ia telah sangt lancang berbicara seperti itu. Saat itu aku mengira pamanku berbicara demikian agar aku bisa segera diizinkan.

    Air mataku mengalir deras. fikiranku mulai kacau. Aku sangat kesal pada pamanku, namun hati ini juga dihantui rasa takutt, takut kalau semua perkataannya benar. Saat aku turun dari mobil, terlihat jelas didepan mataku selembar kain putih berkibar didekat pagar rumahku. Seperti ada yang menusuk dadaku. Saat itu aku sangat berharap kalau semua ini hanya mimpi, dan aku berusaha bangun dan tidak ingin meneruskan mimpi ini. Tapii tidak bisa, karena ini memang benar. Ini bukan mimpi.

    Aku berlari memasuki rumah, dan semua kini sudah sangat jelas, jasad ayahku berbaring ditengah ruangan itu. Aku tak sanggup lagi melihatnya, tangisku pecah dipangkuan ibu.
    Apakah ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke-14??. 
    Bagaiman bisa aku hidup tanpa ayah??
    Bagaimana mungkin ayah meninggalkanku secepat ini ?. Padahal ayah pernah berjanji akan menjengukku dipesantren, namun hal itu belum pernah dan tidak akan pernah Ia lakukan.


    Aku tak ingin lagi menangis. Aku bukan anak yang cengeng lagi. Aku berusaha menahan air mata. Namun, apa dayaku, Ia adalah sosok yang sangat berharga bagiku. 
    Aku tak mempu lagi membendungnya. Air mataku seakan memaksa untuk keluar dan membasahi pipiku.


    Ya Allah.. Jaga Ayahku ya Allah..
    Sayangi Ia sebagaimana Ia menyayangiku sewaktu aku kecil.
      
    Miss U Dad =) 

    2 komentar:

    Unknown mengatakan...

    Aku tersentuh melihat tulisanmu... Semoga kuat ya...

    Oia Non, Profile Blogger anda saya posting di Blog Saya... Blog Nano Yulianto - Profile Blogger.

    Salam kenal dari saya :
    Nano Yulianto - Blogger Pinggir Jalan

    Paey's scracth mengatakan...

    ooohiyaa..
    Insyaallah kuat kok. mkasih yaa. =)

    salam kenal jg

    Posting Komentar

    rss
    rss


    Copyright © 2010 My Scratch All rights reserved.Powered by Blogger.